Tim Mahasiswa UUI Mulai Jalankan Program Pemulihan Bencana, Petakan Dampak Banjir dan Masalah Warga
PIDIE JAYA – Tim Program Mahasiswa Berdampak Universitas Ubudiyah Indonesia (UUI) kini telah berada langsung di lokasi dan mulai menjalankan rangkaian kegiatan pemulihan pascabencana di Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya.
Rifki Sani
2/6/20262 min read


PIDIE JAYA – Tim Program Mahasiswa Berdampak Universitas Ubudiyah Indonesia (UUI) kini telah berada langsung di lokasi dan mulai menjalankan rangkaian kegiatan pemulihan pascabencana di Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya.
Sebelumnya, sebanyak 50 mahasiswa UUI tersebut secara resmi telah dilepas oleh Rektor UUI Dr Mutiawati MPd untuk diterjunkan dan terlibat aktif dalam program pemulihan bencana di Sumatera Tahun 2026.
Para mahasiswa tersebut turun bersama Dosen Pembimbing Lapangan Bd Chairanisa Anwar SST MKM, Bd Nuzulul Rahmi SST MKes dan apt Siti Samaniyah MFarm.
Sejak tiba di desa pada 2 Februari 2026, mahasiswa yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni UUI tersebut langsung bergerak melakukan peninjauan wilayah terdampak.
Tim UUI juga telah melakukan koordinasi dengan aparatur gampong melalui serah terima kegiatan bersama keuchik, sekretaris desa, bendahara desa, kader posyandu, serta unsur tuha peut setempat.


Chairanisa mengatakan fokus awal program ini diarahkan pada pemetaan kondisi lingkungan dan kesehatan masyarakat di tiga dusun yang terdampak paling berat akibat banjir.
“Sekarang para mahasiswa tengah melakuka pemetaan terkait kondisi real di lapangan sehingga nantinya pelaksanaan program ini bisa dilakukan dengan maksimal,” katanya.
Ia menyebutkan bahwa mahasiswa yang terlibat pada kegiatan yang berlangsung hingga 23 Februari 2026 itu berasal dari lintas program studi di lingkungan Fakultas Ilmu Kesehatan UUI, meliputi S1 Kesehatan Masyarakat, S1 Kebidanan, S1 Psikologi, dan S1 Farmasi.
Mengusung tema “Boh Kala untuk Aceh Tangguh: Inovasi Anti-Nyamuk Alami Berbasis Kearifan Lokal dalam Mitigasi Risiko Penyakit Pasca Banjir,” mahasiswa akan mengimplementasikan program utama berupa pembuatan dan pelatihan anti-nyamuk alami berbahan dasar boh kala (kecombrang) langsung di lokasi.
Saat ini, mahasiswa telah memulai tahapan sosialisasi pembuatan anti-nyamuk bersama warga.
Selanjutnya, para warga yang terdiri atas kelompok ternak dan kelompok tani yang masing-masingnya beranggotakan 20 orang akan melakukan produksi secara sederhana dan aplikatif seperti merebus boh kala menggunakan air mineral kemasan steril, kemudian diolah menjadi sediaan gel menggunakan peralatan seperti gelas ukur, panci, pengukur pH, dan alat lainnya.
“Kita sudah menyiapkan semua bahan dan alat yang dibutuhkan untuk proses produksi,” ujarnya.
Anti-nyamuk alami ini diformulasikan sebagai penolak nyamuk (repellent), bukan pembunuh, sehingga ramah lingkungan dan sesuai untuk digunakan di wilayah pascabencana.
Sementara upaya lain untuk pengendalian nyamuk seperti fogging juga akan dilakukan oleh tim UUI setelahnya.
Dengan tim yang sudah berada di lapangan dan program yang mulai berjalan, Program Mahasiswa Berdampak UUI di Desa Manyang Cut tidak hanya berfokus pada pemulihan jangka pendek, tetapi juga mendorong kemandirian masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal dalam menjaga kesehatan lingkungan pascabencana.(*)
